Rabu, 21 Maret 2018


Tuntunan yang diberikan Pendiri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Hadhratus Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy, ra. kepada Perguruan Tinggi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang pada abad 21 ini semakin mendesak. Ada tiga alasan mengapa pengembangan SDM menuntut untuk dikembangkan dalam abad ini, yaitu :
1)        Alasan ekonomi obyektif. Bahwa keseimbangan pembangunan hanya dapat diperoleh apabila pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Sementara pertumbuhan membutuhkan pendidikan produktivitas, untuk itu perlu penerapan teknologi. Sedangkan teknologi hanya dapat dikuasai dan diterapkan oleh SDM yang berkualitas.
2)        Alasan kompetisi global. Dengan memasuki abad 21 atau globalisasi, maka tidak terhindarkan adanya persaingan yang terbuka. Untuk memasuki persaingan global ini dituntut adanya kemampuan penguasaan bidang profesinya, kemampuan teknologi (dalam rangka kualitas produk),  kemampuan manejemen dan efisiensi yang tinggi. Oleh sebab itu ada tiga sebab yang berkaitan dengan standart kualitas SDM meliputi: kreatif, produktif dan berkepribadian.
3)        Alasan spritual, yaitu SDM unggul yang tidak saja tinggi dalam penguasaan IPTEK tetapi juga kuat dalam IMTAQ. Kehidupan abad 21 tidak saja membutuhkan insan-insan yang cerdas, memiliki SDM berkualitas dan prduktif, tetapi juga tenaga yang bermoral yang komitmen terhadap etika amaliyah salafussholih. Untuk memenuhi ketiga alasan itu diperlukan berbagai upaya pemikiran, analisis, usaha, rencana, dan tindakan-tindakan yang sistematis.
Ma’had Jami’ah bertujuan mencetak sumber daya manusia yang kreatif, produktif dan berkepribadian. Dengan kata lain, lulusan yang memenuhi tuntutan masyarakat yaitu ‘Ulama yang intelek profesional dan atau intelek profesional yang ‘Ulama.
Untuk mewujudkan harapan tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pada kegiatan-kegiatan formal akademis, tetapi juga diperlukan penciptaan suasana yang kondusif dan islami. Salah satu upayanya adalah melalui pembinaan intensif di Ma’had Jami’ah (mahasiswa dibina secara intensif di dalamnya).
Saat ini, dilihat dari segi keberadaannya, Ma’had mahasiswa di Indonesia baik yang ada di lingkungan Universitas, Institut, maupun Sekolah Tinggi dapat diklasifikasikan menjadi tiga model.
Pertama, ma’had mahasiswa adalah tempat tinggal para mahasiswa yang masih aktif kuliah dan berprestasi dengan indikator nilai Indek Prestasi (IP) tinggi. Kegiatan yang ada di asrama ini adalah kegiatan yang diprogramkan oleh para penghuninya, sehingga melahirkan kesan terpisah dari cita-cita perguruan tinggi.
Kedua, ma’had mahasiswa adalah tempat tinggal pengurus, aktifis intra, dan ekstra kampus. Kegiatan yang ada di asrama ini banyak terkait dengan kegiatan rutinitas intra dan ekstra kampus tanpa ada kontrol dari pimpinan perguruan tinggi.
Ketiga, ma’had mahasiswa adalah tempat tinggal para mahasiswa yang memang berkeinginan untuk bertempat tinggal di asrama kampus tanpa ada persyaratan tertentu. Oleh sebab itu, kegiatan yang ada di asrama model ketiga inipun tidak menentu. Model asrama ketiga ini lebih banyak menonjolkan unsur-unsur bisnisnya.
Pendiri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dalam hal ini diwakili oleh Kepala Pondok memandang bahwa pendirian Ma’had Jami’ah yang program-program kegiatannya berjalan secara integral dan dirancang secara sistematis dengan mempertimbangkan program-program perguruan tingginya sebagai kesatuan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan perlu dilakukan. Hal ini didasarkan pada data empirik keberadaan ma’had mahasiswa yang sudah ada dan tujuan perguruan tingginya. Karena itu, Pondok Pesantren perlu memiliki ma’had/pesantren bagi mahasiswanya.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Kedinding Lor 99, Surabaya, Indonesia

Recent Posts

Popular Posts

Blog Archive